kompres panas

29 December 2011

KOMPRES PANAS

Pemakaian kompres panas biasanya dilakukan  hanya setempat saja pada bagian tubuh tertentu . dengan pemberian kompres panas , pembuluh pembuluh darah melebar sehingga akan memperbaiki peredaran darah dalam jaringan tersebut . dengan cara ini  penyaluran zat asam  dan makanan  sel sel diperbesar  dan pembuangan zat  yang kan dibuang diperbaiki. Jadi akan timbul  proses pertukaran zat  yang lebih baik. 

Aktivitas sel yang meningkat akan mengurangi  rasa sakit dan menunjang  proses penyembuhan luka , radang setempat  seperti abses bisul yang membesar  dan bernanah radang empedu dan radang sendi pada otot otot panas memiliki efek menghilangkan keteganga.

Kompres panas basah efektif untuk memperbaiki sirkulasi, menghilangkan edema dan meningkan konsolidasi dan drainase pus. Karena kompres dipasangkan pada luka terbuka maka kompres harus streril.
Peralatan:
• Pengalas
• Selimut mandi
• Waslap
• Baskom
• Air hangat
• Termometer

Standart Operating Procedur (SOP) Pemberian Kompres Panas
Tahap Orientasi
- Memberikan salam
- Mengenalkan diri
- Menjelaskan tujuan tindakan
- Menjelaskan langkah prosedur
- Mencuci tangan

Tahap Kerja
- Menjaga privasi klien
- Mengatur posisi pasien
- Meletakkan pengalas di bawah tubuh klien
- Mengganti selimut dengan selimut mandi
- Memeriksa suhu air (37 derajat C)
- Mencelupkan lap mandi ke dalam air
- Meletakkan lap yang sudah basah di bawah masing-masing aksila dan lipat paha
- Penggantian setelah 3-4 menit

Tahap terminasi
- Melakukan evaluasi
- Merapikan pasien
- Merapikan alat
- Berpamitan dengan paien
- Mencuci tangan

sumber: materi kuliah Akper Kabupaten Purworejo

SOP pembalutan dan pembidaian

11 December 2011

PEMBALUTAN

Pengertian
Membalut adalah tindakan untuk menyangga atau menahan bagian tubuh agar tidak bergeser atau berubah dari posisi yang dikehendaki.

Tujuan :
• menghindari bagian tubuh agar tidak bergeser pada tempatnya
• mencegah terjadinya pembengkakan
• menyokong bagian tubuh yang cedera dan mencegah agar bagian itu tidak bergeser
• mencegah terjadinya kontaminasi

Alat dan bahan
• mitella adalah pembalut berbentuk segitiga
• dasi adalah mitella yang berlipat-lipat sehingga berbentuk seperti dasi
• pita adalat pembalut gulung
• plester adalah pembalut berperekat
• pembalut yang spesifik
• kassa steril

Prosedur pembalutan
1. perhatikan tempat atau letak yang akan dibalut dengan menjawab pertanyaan ini:
a. bagian dari tubuh yang mana?
b. Apakah ada luka terbuka atau tidak?
c. Bagaimnan luas luka tersebut?
d. Apakah perlu membatasi gerak bagian tubuh tertentu atau tidak?
2. pilih jenis pembalut yang akan dipergunakan dapat salah satu atau kombinasi
3. sebelum dibalut jika luka terbuka perlu diberi desinfeksi atau dibalut dengan pembalut yang mengandung desinfeksi atau dislokasi perlu direposisi.
4. tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan:
• dapat membatasi pergeseran atau gerak bagian tubuh yang memang perlu difiksasi
• sesedikit mungkin gerak bagian tubuh yang lain
• usahakan posisi balutan yang paling nyaman untuk kegiatan pokok penderita
• tidak menggangu peredaran darah, misalanya pada balutan berlapis-lapis yang paling bawah letaknya di sebelah distal
• tidak mudah kendor atau lepas

Cara membalut:
1. Dengan mitella
a. salah satu sisi mitella dilkipat 3-4 cm sebanyak 1-3 kali
b. pertengahan sisi yang telah terlipat diletakkan di luar bagian yang akan dibalut, lalu ditarik secukupnya dan kedua ujung sisi itu diikatkan
c. salah satu ujung yang bebas lainnya ditarik dan dapat diikatkan pada ikatan atau diikatkan pada tempat lain maupun dapat dibiarkan bebas, hla ini tergantung pada tempat dan kepentingannya.

2. Dengan dasi
a. Pembalut mitella dilipat-lipat dari salah satu sisi sehingga berbentuk pita dengan masing-masing ujung lancip
b. Bebatkan pada tempat yang akan dibalut sampai kedua ujungnya dapat diikatkan
c. Diusahakan agar balutan tidak mudah kendor dengan cara sebelum diikat arahnya saling menarik
d. Kedua ujungnya diikatkan secukupnya

3. Dengan pita
a. berdasar besar bagian tubuh yang akan dibalut maka dipilih pembalutan pita ukuran lebar yang sesuai
b. balutan pita biasanya beberapa lapis, dimulai dari salah satu ujung yang diletakkan dari proksimal ke distal menutup sepanjang bagian tubuh yang akan dibalut kemudian dari distal ke proksimal dibebatkan dengan arah bebatan saling menyilang dan tumpang tindih antara bebatan ynag satu dengan bebatan berikutnya
c. kemudian ujung yang dalam tadi diikat dengan ujung yang lain secukupnya.

4. Dengan plester
a. jika ada luka terbuka
• luka diberi obat antiseptic
• tutup luka dengan kassa
• baru lekatkan pembalut plester
b.jika untuk fiksasi
• balutan plester dibuat “strapping” dengan membebat berlapis-lapis dari distal ke proksimal dan untuk membatasi gerakan tertentu perlu kita yang masing-masing ujungnya difiksasi dengan plester.




PEMBIDAIAN

Bidai atau splak adalah alat dari kayu, anyaman kawat atau bahan lain yang kuat tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi) memberikan istirahat dan mengurangi rasa sakit.
Sedangkan prinsip pembidaian adalah:
a. lakukan pembidaian di tempat dimana anggota badan mengalami cidera (korban dipindahkan)
b. lakukan juga pembidaian pada persangkaan patah tuklang jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada tidaknya patah tulang
c. melewati minimal dua sendi yang berbatasan

Syarat-syarat pembidaian
a. siapakan alat-alat selengkapnya
b. bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur lebih dulu pada anggota badann yang tidak sakit
c. ikatan jangan terlalu keras dan terlalu kendor
d. bidai dibalut dengan pembalut sebelum digunakan
e. ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat yang patah
f. kalau memungkinkan anggota gerak tersebut ditinggikan setelah dibidai
g. sepatu, gelang, jam tangan dann alat pengilat perlu dilepas.



Standart Operating Procedure
pembalutan dan pembidaian

Tahap Pre-Interaksi
a. Mengecek dokumentasi/data klien
b. Mencuci tangan
c. menyiapkan alat

Tahap Orientasi
a. Memberikan salam kepada paien, siapa nama pasien dan memperkenalkan diri
b. Memberitahu klien tujuan dan prosedur tindakan
c. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien

Tahap Kerja
a. Memberikan kesempatan kepada klien untuk bertanya
b. Menanyakan keluhan utama klien
c. Memeriksa bagian tubuh yang akan dibalut, cedera dengan inspeksi dan palpasi gerakan
d. Melakukan tindakan pra-pembalutan (membersihkan luka, mencukur, memberi desinfektan, kasa steril)
e. Memilih jenis pembalutan yang tepat
f. Cara pembalutan dilakukan dengan benar (posisi dan arah balutan)

Tahap terminasi
a. Mengevaluasi tindakan yang baru dilakukan (subyektif dan obyektif), hasil pembalutan : mudah lepas, menggangu peredaran darah, mengganggu gerakan lain)
b. Berikan reinforcement positif pada klien
c. Kontrak pertemuan selanjutnya (waktu, kegiatan, tampat)
d. Merapikan dan kembalikan alat
e. Mencuci tangan
f. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

sumber: 
materi keperwatan Akper Purworejo

penyiapan dan penyimpanan susu formula

09 December 2011

Penyimpanan, penanganan, dan penyiapan susu formula bayi dan susu formula

Penanganan
1. Bersihkan atau pastikan tempat dan semua peralatan untuk  membersihkan benar benar dalam keadaan bersih.
2. Cucilah tangan anda sebelum menyiapkan susu atau peralatannya
3. Pakailah pakaian yang bersih dan masker penutup hidung dan mulut
4. Bersihkan kemasan dengan teliti sebelum membukanya
5. Sterilkan peralatan (dot, botol) sebelum menggunakannya

Penyiapan
1. Masing masing bayi sebaiknya menggunakan resep dokter (produk, dosis, jumlah pemakaian)
2. Jangan menambahkan bahan lain ke dalam susu (misalnya madu, syrup, telur) gunakan secara terpisah

Penyiapan botol individual
1.  Rebus air minum sampai mendidih ditempat tertutup selama 5 menit, diamkan sampai suam kuku (40 C)
2. Tuangkan air tersebut ke dalam botol sesuai jumlah yang tertera tanpa menyentuh ujung botol.
3. Masukkan susu bubuk ke dalam sendok takar sesuai petunjuk penggunaan. Hanya gunakan sendok takar yang tersedia dalam kaleng.
4. Segera tutup botol dengan dot tanpa menyentuh dot tersebut. Kocoklah botol sampai susu bubuk larut seluruhnya.
5. Bila susu yang telah dibuat tidak langsung diberikan kepada bayi, berilah label sesuai petunjuk pd kemasan susu formula dan simpan di lemari es (sesuai petunjuk penyimpanan

Penyimpanan
1. Simpanlah susu bubuk ditempat yang kering dan sejuk (<30 C)
2. Susu formula yang tidak diminum dalam 30 menit harus dibuang.

standart operating procedure (SOP) pemeriksaan leopold

07 December 2011

Tahap Pre-Interaksi
- Mengecek catatan medik
- Menyiapkan peralatan dan tempat
- Mencuci tangan
- Tahap Orientasi
- Memberikan salam dan memperkenalkan diri
- Memperkenalkan diri
- Memberitahu tujuan
- Menjelaskan langkah prosedur
- Menanyakan kesiapan klien
- Mencuci tangan

Tahap Kerja
- Mengatur posisi tidur telentang dengan kedua kaki ditekuk
- Menghangatkan tangan
- Buka pakaian pada daerah abdomen
- Tutup tubuh klien bagian bawah dengan selimut
Leopod I
Menentukan bagian apa yang terletak pada fundus uteri : permeriksa berdiri di sebelah kanan klien, menghadap muka klien. Raba dan rasakan bagian tubuh janin apakah yang berada pada fundus uteri
Menentukan Tinggi Fundus Uteri : masih dengan posisi pemeriksa yang sama, tentukan dimanakah letak fundus uteri
Leopold II
Menentukan letak punggung janin : masih dengan posisi pemeriksa yang sama, palpasi ke arah bawah pada kedua sisi uterus. Tentukan di sebelah manakah letak punggung dan bagian-bagian kecil janin
Leopold III
Menentukan bagian terbawah/presentasi janin : masih dengan posisi pemeriksa yang sama, letakkan satu tangan di atas simfisis pubis dan rasakan bagian presentasi
Menetukan apakah bagian presentasi sudah masuk Pintu Atas Panggul (PAP) atau belum : bila bagian presentasi belum turun, maka dapat teraba di atas simfisis  pubis

Leopold IV
Menentukan seberapa bagian presentasi yang sudah masuk ke dalam PAP : pemeriksa berbalik dan menghadap kaki pklien. Tekan ke bawah pada kedua sisi uterus, sekitar 2 cm di atas simfisis pubis.

Tahap terminasi
- Merapikan klien
- Melakukan evaluasi tindakan
- Mencuci tangan
- Berpamitan

Sumber:
materi keperawatan akper purworejo

Pemeriksaan Leopold

PENGERTIAN
Adalah pemeriksaan palpasi yang dilakukan pada ibu hamil  untuk mengetahui posisi janin dalam uterus.

TUJUAN
Pemeriksaan Leopold untuk menentukan :
1. Besarnya rahim dan konsistensinya
2. Bagian-bagian janin, letak dan presentasi.
3. Gerakan janin
4. Kontraksi Braxton-hicks dan His

DILAKUKAN PADA
Ibu hamil pada Trimester I s/d III

PROSEDUR
• Ibu hamil berbaring terlentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan memakai bantal.
• Pemeriksa berdiri disebelah kanan ibu hamil dengan bersikap hormat melakukan palpasi bimanual  ( Leopold I, II, III  dan IV ) pada daerah abdomen.

LEOPOLD I
• Untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalan fundus uteri
• Konsistensi  uterus

   LEOPOLD II
• Untuk menentukan batas samping rahim kanan dan kiri
• Menentukan letak punggung janin
• Pada letak lintang , tentukan dimana kepala janin

LEOPOLD III
Menentukan bagian terbawah dari janin
LEOPOLD IV
• Menentukan apakah bagian terbawah dari janin tersebut sudah masuk pada pintu atas panggul / masih goyang.

HUBUNGAN ANTARA BESARNYA UTERUS DAN TINGGI FUNDUS UTERI TERHADAP USIA KEHAMILAN

USIA KEHAMILAN
BESARNYA UTERUS
TINGGI FUNDUS UTERI
Akhir Bulan 1

Akhir Bulan  2

Akhir Bulan 3

Akhir Bulan 4

Akhir Bulan 5

Akhir Bulan 6

Akhir Bulan 7

Akhir Bulan 8

Akhir Bulan 9

Akhir Bulan 10
Lebih besar dari biasanya

Sebesar telur bebek

Sebesar telur anggsa

Sebesar kepala bayi

Sebesar kepala dewasa

Sebesar kepala dewasa / >

Sebesar kepala dewasa / >

Sebesar kepala dewasa / >

Sebesar kepala dewasa / >

Sebesar kepala dewasa / >

Belum teraba

Dibelakang simphisis

1- 2 jari diatas simphisis

Pertengahan simp- pusat

2- 3 jari dibawah pusat

Setinggi  pusat

2-3 jari di atas pusat

Pertengahan pusat Px

3 jari dibawah Px / Setinggi Px
Sama dengan 8 bulan tetapi lebih lebar..

TUA KEHAMILAN  TERHADAP TINGGI FUNDUS UTERI MENURUT SPIEGELBERG
 22 – 28 Minggu =  24 – 25 cm di atas simphisis
28 Mgg                 =  26,5 cm di atas simphisis
30 Mgg                 =  29,5 - 30 cm di atas simphisis
32 Mgg                 =  29,5 - 30 cm di atas simphisis
34 Mgg                 =  31  cm di atas simphisis
36 Mgg                                 =  32 cm di atas simphisis
38 Mgg                 =  33 cm di atas simphisis
40 Mgg                 =  37,7 cm di atas simphisis
                                                                                               
TUA KEHAMILAN  TERHADAP TINGGI FUNDUS UTERI MENURUT
Mc. DONAL
Kombinasi rumus Spiegelberg kemudian hasil dalam cm dibagi 3,5  hasilnya akan di dapat usia kehamilan dalan bulan.


sumber:
materi keperawatan Akper Purworejo

Stop Penularan HIV/AIDS, Lindungi Dan Sayangi Keluarga Anda

Pernyataan Sikap Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Berkenaan Aksi 1 Desember 2011 " Stop Penularan HIV/AIDS, Lindungi Dan Sayangi Keluarga Anda!!!"


Hak reproduksi adalah hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap manusia yang berkaitan dengan kehidupan reproduksinya. Berdasarkan Kesepakatan Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan tahun 1994 di Kairo, pemerintah Indonesia telah menyetujui 12 hak reproduksi yang di dalamnya, dimana di dalamnya mencakup pula hak-hak reproduksi perempuan dengan 4 hal pokok yakni kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health), penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making), kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women) dan keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security).

Rencana keperawatan pada pasien depresi

06 December 2011

Rencana keperawatan pada pasien depresi

Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai timbulnya komponen psikologik seperti rasa susah, murung, sedih, putus asa, dan tidak bahagia, serta komponen somatic: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (terasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.

Gejala depresi
Umumnya penderita akan mengalami:
- kesedihan
- kehilangan minat
- perbahan berat badan
- kesulitan tidur atau tidur berlebihan
- perasaan tidak berharga
- berpikir tentang kematian atau bunuh diri

Penyebab
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.

Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedah¬an, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.

Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

Rencana keperawatan untuk depresi
a.Data  Subyektif :
Tidak mampu mengekspresikan pendapat dan malas berbicara. Sering diungkapkan keluhan somatik. Merasa sendiri, tidak berguna lagi, merasa tidak penting, tidak ada tujuan dalam hidup, merasa putus asa dan mungkin untuk melakukan bunuh diri.

b. Data Obyektif:
Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh melengkung dan bila duduk dalam sikap merosot, ekspresi wajah murung, gaya berjalan lambat dengan langkah yang diseret. Kadang-kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak nafsu makan, sulit tidur dan sering menangis. Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong, konsentrasi terganggu, tidak bisa berpikir, pada pasien depresi psikosis imajinasi memiliki perasaan bersalah yang dalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi, dan halusinasi. Kadang-kadang pasien suka bermusuhan, mudah tersinggung dan tidak suka diganggu.

Koping maladaptif
a. Data Subjektif: menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia,dan putus asa.
b. Data Objektif: tampak sedih, marah, gelisah, tak mampu mengendalikan impuls.

Diagnose keperawatan
Resiko perilaku kekerasan: diri sendiri atau orang lain

Intervensi keperawatan
Tujuan umum: Tidak ada kekerasan Self-Directed atau Other-Directed

Tujuan khusus:
1. Klien dapat membangun hubungan saling percaya
tindakan:
 - Memperkenalkan diri kepada pasien
- lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati
- Dengarkan pernyataan pasien dengan sikap empati dan lebih banyak menggunakan bahasa non-verbal. misalnya: sentuhan, anggukan.
- Perhatikan pembicaraan pasien dan memberikan respon sesuai dengan keinginannya
- Berbicara dengan nada suara yang rendah dan  jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti
- Terima pasien tanpa membandingkan dengan orang lain.

2. Klien dapat menggunakan koping adaptif
Tindakan :
- Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.
- Mintalah kepada pasien cara yang biasa untuk mengatasi perasaan sedih / menyakitkan
- diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan
- Bersama dengan pasien mencari alternative koping.
- Berikan dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima
 - berikan dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih
- Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam memecahkan masalah.

3. Klien terlindung dari perilaku kekerasan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Tindakan :
- pantau dengan risiko bunuh diri / kekerasan itu.
- Menjaga dan menyimpan alat-alat yang dapat digunakan oleh pasien untuk perilaku kekerasan, diri sendiri / orang lain, di tempat yang aman dan terkunci.
-  Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.
- Mengawasi dan menempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh perawat / petugas.

4. Klien dapat meningkatkan harga diri
  Tindakan :
  - Membantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaan.
- Menilai dan memobilisasi sumber daya internal individu.
- Membantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal, hubungan dengan teman sebaya, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).

5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan :
- kaji dan memanfaatkan sumber-sumber eksternal individu (orang-orang terdekat, tim perawatan kesehatan, kelompok pendukung, agama).
- kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, kegiatan keagamaan, kepercayaan agama).
- lakukan rujukan sesuai indikasi (misalnya, konseling, pemimpin agama).

6. klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan :
- Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping dari minum obat).
- Bantuan menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (, pengobatan pasien yang tepat, dosis, waktu cara,).
- Mendorong berbicara tentang efek dan efek samping yang dirasakan.
- berikan reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

Sumber ;
National Institute of Mental Health (http://www.nlm.nih.gov)

semoga bermanfaat......

10 fakta eradikasi polio

03 December 2011

10 facts on polio eradication


Polio continues to paralyse children

While polio is a distant memory in most of the world, the disease still exists in some places and mainly affects children under five. One in 200 infections leads to irreversible paralysis (usually in the legs). Among those paralysed, 5% to 10% die when their breathing muscles become immobilized.


We are 99% of the way to eradicating polio globally

In 1988, when the Global Polio Eradication Initiative was formed, polio paralysed more than 350 000 people a year. Since that time, polio case numbers have decreased by more than 99%.


There are just four countries which have never stopped transmission of polio

The four countries are Afghanistan, India, Nigeria and Pakistan. They face a range of challenges such as insecurity, weak health systems and poor sanitation. Polio can spread from these 'endemic' countries to infect children in other countries with less-than-adequate vaccination.


Unlike most diseases, polio can be completely eradicated

There are three strains of wild poliovirus, none of which can survive for long periods outside of the human body. If the virus cannot find an unvaccinated person to infect, it will die out. Type 2 wild poliovirus was eradicated in 1999.


Cheap and effective vaccines are available to prevent polio

There are two forms of vaccine available to ward off polio - oral polio vaccine (OPV) and inactivated polio vaccine (IPV). Because OPV is an oral vaccine, it can be administered by anyone, even volunteers. One dose of OPV can cost as little as 11 US cents.


The global effort to eradicate polio is the largest public-private partnership for public health

In fact, it is the largest-ever peacetime mobilization of people. It involves four spearheading partner organizations (WHO, Rotary International, the United States Centers for Disease Control and Prevention and UNICEF), polio-affected and donor governments, private foundations, development banks, humanitarian and non-governmental organizations, corporate partners and more than 20 million volunteers.


Large-scale vaccination rounds help rapidly boost immunity

The Global Polio Eradication Initiative assists countries in carrying out surveillance for polio and large-scale vaccination rounds. In just one round of the national immunization days in India there are 640 000 vaccination booths, 2.3 million vaccinators, 200 million doses of vaccine, 6.3 million ice packs, 191 million homes visited and 172 million children immunized.



Every child must be vaccinated to eradicate polio

This includes those living in the most remote and/or underserved places on the planet. 'Days of Tranquility' are negotiated so that vaccination teams can reach children living in conflict zones. All manner of transport is used – from donkeys to motorbikes to helicopters – to reach children in remote areas or difficult terrain.



Polio-funded staff, strategies and resources are also used to advance other health initiatives

Strategies to find and map every child can be applied to other public health initiatives. While a vaccination team is in a remote village, they can, for little additional cost, provide other health interventions while they are there. For example, vitamin A has been given alongside polio campaigns. Since vitamin A gives a general boost to immunity, it allows children to fend off a range of infections, this has averted more than 1.2 million deaths.


We can eradicate polio

More than 20 years ago, this little boy was the last child to be paralysed by polio in the WHO Region of the Americas. The WHO Western Pacific Region was declared polio free in 2000 and the WHO European Region in 2002. The world could be freed of the threat of polio - with everyone's commitment, from parent to government worker and political leader to the international community.

sumber : Badan Kesehatan Dunia (WHO)

profesi keperawatan

01 December 2011


Keperawatan adalah profesi kesehatan yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan masyarakat sehingga mereka bisa mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari konsepsi sampai mati.

Perawat bekerja di berbagai macam spesialisasi di mana mereka bekerja secara independen dan sebagai bagian dari sebuah tim untuk menilai, merencanakan, menerapkan dan mengevaluasi perawatan. Ilmu Keperawatan adalah bidang pengetahuan berdasarkan kontribusi dari para ilmuwan keperawatan melalui peer-review jurnal ilmiah dan praktik berbasis pembuktian.

Kegiatan pelayanan keperawatan berkualiatas telah dimulai sejak seorang perawat muslim pertama yaitu Siti Rufaidah pada jaman Nabi Muhammad S.A.W, yang selalu berusaha memberikan pelayanan terbaiknya bagi yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. Ada pula yang mengenal sebagai Rufaidah binti Sa’ad/Rufaidah Al-Asalmiya dimana dalam beberapa catatan publikasi menyebutkan Rufaidah Al-Asalmiya, yang memulai praktek keperawatan dimasa Nabi Muhammad SAW adalah perawata pertama muslim. Sementara sejarah perawat di Eropa dan Amerika mengenal Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan modern, Negara di timur tengah memberikan status ini kepada Rufaidah, seorang perawat muslim. Talenta perjuangan dan kepahlawanan Rufaidah secara verbal diteruskan turun temurun dari generasi ke generasi di perawat Islam khususnya di Arab Saudi dan diteruskan ke generasi modern perawat di Saudi dan Timur Tengah.

Selama ini pula perawat Indonesia khususnya lebih mengenal Florence Nightingale sebagai tokoh keperawatan, yang mungkin saja lebih dikarenakan konsep keperawatan modern yang mengadopsi litelature barat. Florence Nightingale adalah pelopor perawat modern. Ia dikenali dengan nama The Lady With The Lamp dalam bahasa Inggris yang berarti “Sang Wanita dengan Lampu”. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris.


Pada abad kelima SM, Hippocrates adalah salah satu orang pertama di dunia untuk belajar kesehatan, produktif dia gelar "bapak kedokteran modern" konsep keperawatan Eropa yang pertama kali dipraktekkan oleh para rahib Katolik pria yang disediakan untuk orang sakit dan sakit selama Zaman Kegelapan Eropa.

Keperawatan sebagai profesi
Kewenangan untuk praktek  didasarkan atas kontrak sosial yang menggambarkan hak dan tanggung jawab profesional serta mekanisme untuk akuntabilitas publik. Di hampir semua negara, praktik keperawatan didefinisikan dan diatur oleh hukum, dan masuk ke profesi diatur di tingkat nasional atau negara.

Tujuan dari komunitas keperawatan di seluruh dunia adalah untuk para profesional untuk memastikan perawatan berkualitas untuk semua, sambil mempertahankan identitasnya, kode etik, standar, dan kompetensi, dan melanjutkan pendidikan mereka. Ada beberapa jalur pendidikan untuk menjadi profesional perawat, yang sangat bervariasi di seluruh dunia, namun semuanya melibatkan studi ekstensif dari teori keperawatan dan praktek, dan pelatihan dalam keterampilan klinis.

Sumber


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls